“Sebagaimana jungkat-jungkit, dalam hidup ini ada saatnya kita berada di atas, dan ada waktunya juga kita akan berada di bawah..” (Dhiti I. Prabawa)

Tanpa kita sadari ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari berbagai kejadian dalam hidup ini, bahkan dari yang paling sepele sekalipun.

Contohnya yang saya perhatikan sore ini sambil nemenin anak bungsu saya L main di taman.

Tahukah Moms bahwa ternyata banyak pelajaran hidup bisa dipetik dari permainan anak-anak?

Nah kali ini saya mau membahas soal Jungkat-Jungkit. Karena kebetulan L sedang main Jungkat-Jungkit atau yang dalam bahasa Inggris disebut seesaw.

Dalam Jungkat-Jungkit, ada saat kita berada di atas, dan saat dimana kita berada di bawah, selayaknya kita bisa melihat bahwa dalam kehidupan ada kalanya kita berada di atas, dan kadang di bawah.

Keduanya pasti akan terjadi dalam hidup ini, sebagaimana keduanya juga pasti akan terjadi dalam posisi duduk yang menapun kita berada dalam permainan Jungkat-Jungkitnya.

Oleh karena pasti terjadi dan tidak bisa dihindari, maka kita perlu belajar dari anak-anak yang senantiasa gembira dan tersenyum ceria dalam dinamisnya pergerakan naik turun dalam permainan Jungkat-Jungkitnya.

Seperti itulah selayaknya kita bisa menyikapi kehidupan ini. Apapun keadaan yang sedang terjadi, kita hadapi dengan optimisme dan senyuman, karena tidak ada yang abadi.

Apa yg kita sedang nikmati pasti akan selesai dan berganti, begitu juga saat sedang diuji, tidak akan selamanya dan akan berlalu juga.

Jadi saat senang, bersyukurlah, dan disaat susah bersabarlah. Semua ini adalah permainan yang dinamis dan tidak abadi.

Tinggal bagaimana kita mengubah sudut pandang kita terhadap apapun keadaan yang sedang menghampiri.

Selain kondisi naik-turun atas bawah, dalam Jungkat-Jungkit juga bisa dicapai kondisi seimbang.

Tetapi hal ini agak sulit dicapai karena harus bertemu dengan lawan yang seimbang berat badannya (ini tentunya sulit dicari, dan lebih bergantung pada faktor luck), atau bisa disiasati dengan mengubah kedudukan kita dalam permainan Jungkat-Jungkit tersebut, baik lebih maju ataupun mundur.

Hal ini bila direfleksikan ke dalam kehidupan, maka kita bisa menarik pelajaran, bahwa kita sulit untuk bergantung pada orang lain untuk melakukan hal terkait hidup kita hingga sesuai dengan keinginan atau tujuan kita.

What good of chance do we have to be able to find the perfect match in whatever areas of our lives? Unless you’re that d*mn lucky, or else, unless you are Raisa and Hamish! hehehe bapeeerr dehh 😜 (maaf kalo contoh pasangan itu sih sebenernya gak cocok disambungin sama konteks tulisan ini, tapi apa daya suka banget liat mereka berdua, cocok banget cantik sama ganteng, jadi deh agak maksa pake diselipin segala hihihi 😅)..

See, lagi-lagi faktor luck gak bisa jadi acuan, karena sifatnya yang tidak universal, alias tidak berlaku pada semua orang.

Nah maka opsi yang lebih mungkin dilakukan dan lebih feasible adalah diri kitalah yang harus berubah, baik maju atau mundur sampai tercipta keseimbangan itu.

Maka dalam menjalani kehidupan ataupun menghadapi suatu permasalahan, jangan bergantung pada orang lain, take ownership n responsibility atas permasalahannya.

Bagaimana orang lain bereaksi tidak bisa kita atur, sehingga tidak perlu kita habiskan waktu dan energi untuk mengurusinya.

Yang bisa kita atur adalah bagaimana sikap kita sendiri.

Maka dengan mengambil tanggung jawab dan ownership atas hidup dan permasalahan kita, kita telah mengubah positioning diri, bukan lagi sebagai part of problem tapi sebagai part of solution.

Ada satu quote dari life coach yang saya kagumi, yaitu Jim Rohn; “for things to change, you need to change”

Saya sangat setuju, kalau kita inginkan perubahan, maka hal pertama yang harus berubah adalah diri kita sendiri.

Jangan harapkan perubahan datang dari orang lain, it means you don’t have control over your own life.

Hal lain yang saya perhatikan dari titik keseimbangan dari permainan Jungkat-Jungkit adalah: anak-anak justru bosan dan cenderung tidak menyukai posisi ini, dan ingin buru-buru kembali pada posisi dinamis naik-turun atas-bawah.

Hal ini bisa diartikan bahwa hidup yang stagnant, yang tenang damai tanpa riak-riak kehidupan (kalaupun ada yang seperti itu) akan membuat kita terjebak dalam kondisi yang melenakan dan bukan tidak mungkin berakhir dengan kebosanan, seperti anak-anak kecil ini yang bosan dengan situasi yang seimbang tak bergerak.

Socrates pernah berkata: “Hidup yang tidak diuji, tidak pantas dijalani”

Maka dari permainan Jungkat-Jungkit ini, mari kita belajar menikmati “matahari” dan menari dalam “hujan”.

Bersyukur saat diberi kenikmatan dan bersabar saat ditempa cobaan.

Apapun keadaan yang menghampiri marilah kita hadapi dengan optimis dan senyum manis.

Tentunya bukan hal yang mudah, sangat sulit bahkan! Karenanya sayapun masih akan terus belajar untuk menjadi the better version of myself again and again, in every challenges I have, every single day.

Menulis juga merupakan salah satu bentuk penguatan bagi diri saya sendiri saat “badai kehidupan” sedang menerpa.

Karena dengan menulis, selain akan dibaca oleh orang lain yang membacanya, tentunya saya sendiri juga akan membaca.

Dan dengan membacanya, saya mendapat kekuatan saat lemah itu hadir, sebagaimana kita bisa kembali semangat saat membaca kisah-kisah inspiratif, ataupun quotes dari orang-orang hebat yang kita kagumi.

Manusia memang adalah mahluk yang mudah off-track, sehingga menulis menjadi salah satu cara to get me back on-track whenever necessary.

Mudah-mudahan sharing saya atas pengamatan singkat hasil nemenin anak bermain ini bisa bermanfaat dan menjadi bahan kontemplasi kita akan kehidupan.

Sekian cerita sore saya yaa.. Semoga kita selalu bisa menangkap hikmah dan kebaikan dalam setiap hal yang terjadi, dan diberikan mata hati untuk dapat melihatnya. Aamiin 😇 🙏

“Beauty lies in the eye of the beholder”

Last quote: “when life gives you lemons, go and make lemonade!” 🍋🍹😋

Dhiti I. Prabawa